SEJARAH SUMPAH PEMUDA

JAKARTA–MICOM: Pelaksanaan Pergub DKI Jakarta No 88/2010 tentang Larangan Merorok, mendapat perlawanan dari sejumlah elemen masyarakat. Salah satu wujud dari perlawanan itu adalah pembentukan koalisi yang diberi nama ‘Koalisi Cinta 100% Indonesia’.
“Koalsisi ini merupakan gerakan rakyat yang bersifat spontan, sebagai reaksi masyarakat Jakarta atas pergub tersebut,” ujar Suroso, yang didaulat sebagai koordinator koalisi, di Jakarta, Minggu (14/11).

Menurutnya, koalisi itu didukung oleh belasan elemen masyarakat Jakarta. Dukungan tidak hanya datang dari Jakarta, tetapi juga dari luar Jakarta. Bahkan, banyak intelektual dan tokoh memberikan dukungan moral.

Ketika ditanya kenapa diberi nama ‘Koalisi Cinta 100% Indonesia’, Suroso menjelaskan, itu potret dari problem Indonesia yang selalu melakukan kebijakan atas imbauan negara atau lembaga asing. “Ini wujud dari gerakan cinta Indonesia yang substansinya adalah cinta rakyat Indonesia,” tegasnya.

Agung, seorang aktivis yang selama ini memperjuangkan kesehatan bagi rakyat miskin perkotaan, menilai pergub tersebut membuat sentimen rakyat kecil terusik. Apalagi, saat isu rakyat miskin yang merokok akan dicabut jaminan hak kesehatan mereka.

“Ini benar-benar kebijakan yang salah urus. Bukannya pemerintah segera mengatasi persoalan kemiskinan, malah semakin meneror mental rakyat miskin,” tegas Agung.

Koalisi juga mendapat dukungan dari kaum perempuan. Berbagai elemen perempuan yang selama ini dianggap menjadi korban dari para perokok, justru mulai angkat bicara. Miranda Harlan, salah satunya. Penulis muda yang juga didaulat sebagai wakil koordinator Komunitas Kretek Seluruh Indonesia, menyatakan peraturan seperti itu melanggar prinsip gerakan sosial, sebab tidak pernah mengajak stake holders yang terkena imbas kebijakan tersebut untuk berbicara.

Miranda juga menegaskan, berbagai pernyataan bahwa perempuan menjadi korban dari bisnis rokok sesungguhnya tidak tepat. “Ada puluhan ribu perempuan menjadi buruh rokok di negeri ini, dan mereka akan terkena dampak, yakni kehilangan pekerjaan akibat kebijakan ini.”

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s