Keanekaragaman Hayati di tengah Ancaman Perubahan Iklim

Setiap tahun kita memperingati tanggal 22 Mei sebagai Hari keanekaragaman hayati sedunia. Berbagai studi dibuat untuk mengkaji kondisi keanekaragaman hayati (kehati) di dunia oleh berbagi kelompok ilmuwan di berbagai negara. Berbagai kampanye dan pendidikan publik digelar untuk menyadarkan pada publik tentang pentingnya kehati bagi manusia sekaligus mengingatkan kita terhadap laju kehilangan keanekaragaman hayati yang luar biasa di dunia.
Hilangnya keanekaragaman hayati ini dapat menurunkan kapasitas kita untuk mempertahankan hidup di dunia. Oleh karena itu para pemimpin di dunia menghadiri pertemuan puncak di Johannesburg tahun 2002 yang membahas tentang isu Pembangunan Berkelanjutan, dimana mereka sepakat untuk mengambil langkah menurunkan laju punahnya kehati pada tahun 2010 secara signifikan. Komitmen ini juga berhubungan dengan pertemuan puncak pemimpin dunia tahun 2005. Target kehati 2010 kini telah diintegrasikan dalam “Tujuan Pembangunan Millenium” dan sebagai dukungan terhadap hal ini masyarakat internasional mendeklarasikan tahun 2010 sebagai tahun Keanekaragaman Hayati.

Tahun ini tema utama dalam konservasi kenekaragaman hayati adalah “Keanekaragaman Hayati dan Perubahan Iklim. Tentunya strategi dalam pemanfaatan kehati secara berkelanjutan adalah elemen dasar untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim. Perubahan Iklim dan pemanfaatan tata ruang yang salah merupakan salah satu sebab terbesar hilangnya kehati planet kita. Laporan dari Intergovernmental Panel on Climate Change dengan jelas menyebutkan bahwa perubahan iklim adalah bahaya yang nyata menghadang di depan kita yang menimbulkan dampak bagi kehidupan dan ekosistem bumi di tahun-tahun mendatang. Dampak tersebut dapat berupa hilangnya spesies dan melemahkan ekosistem-ekosistem yang memang telah rentan.

Masih banyak kerja keras yang harus dilakukan untuk mengurangi derasnya laju kepunahan kehati. Mari bahu membahu agar paling tidak di tahun 2010 nanti, laju kepunahan spesies bisa sangat berkurang dan kita tetap dapat memelihara ekosistem sebagai penyangga kehidupan di bumi ini.

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s