Pakan alami (artemia)

METODOLOGI

A. WAKTU DAN TEMPAT

Pelaksanaan pratikum yang dilakukan di di Instalasi Perikanan PPPTK Pertanian Cianjur selama 5 hari pada tanggal 16 Februari 2009 sampai pada tanggal 21 Februari 2009.

B. ALAT DAN BAHAN

· Alat

o Thermometer

o Refraktometer

o Galon

o Miskroskop

o Timbangan

o Selang

o Kertas

o Plastik

· Bahan

o Kista/telur Artemia

o Air

o Garam

C. LANGKAH KERJA/PROSEDUR KERJA

1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan untuk kegiatan kultur Artemia

2. Tentukan wadah /galon yang akan digunakan untuk membudidayakan artemia

3. Persiapan wadah budidaya dengan cara membersihkan dinding galon dan dibilas dengan air bersih

4. Lubangi tutup galon sebesar selang

5. Masukkan selang ke dalam tutup galon

6. Masukkan air bersih yang akan digunakan untuk media budidaya artemia kedalam galon dengan volume 5 liter air

7. Siapkan air rasi

8. Siapkan garam dapur sebanyak 196 gram

9. Siapkan telur artemia/kista sebanyak 2,91 gram

10. Tuang garam secara berkala sedikit demi sedikit ke dalam galon hingga mencapai salinitas 28 PPt

11. Masukkan kista kedalam wadah

12. Biarkan selama 1 hari telur artemia akan menetas

13. Siapkan miskroskop dan alat ukur untuk mengindentifikasi panjang dan bentuk artemia.

14. Lakukan pengamatan terhadap individu artemia beberapa kali ulangan agar dapat membedakan panjang dan bentuk artemia

15. Lakukan pengamatan setiap hari untuk melihat pertumbuhan artemia yang di kultur selama 5 hari

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL

Hasil pengamatan selama 5 hari dengan padat penebar awal kista seberat 2,91 gram, garam yang digunakan seberat 196 gram dengan salinitas 28 PPt dan air sebanyak 5 liter.

a. Pengamatan hari pertama (17.02.09)

Jam

Salinitas

Suhu

Ukuran mulut

Gambar

08.00

28 PPt

300C

b. Pengamatan hari kedua (18.02.09)

Jam

Salinitas

Suhu

Ukuran mulut

Gambar

08.00

28 PPt

310C

c. Pengamatan hari ketiga (19.02.09)

Jam

Salinitas

Suhu

Ukuran mulut

Gambar

08.00

28 PPt

290C

d. Pengamatan hari ke empat (20.02.09)

Jam

Salinitas

Suhu

Ukuran mulut

Gambar

08.00

28 PPt

300C

e. Pengamatan hari ke lima (21.02.09)

Jam

Salinitas

Suhu

Ukuran mulut

Gambar

08.00

28 PPt

300C

B. PEMBAHASAN

1. Budidaya artemia

Artemia (brine shrimp) termasuk udang-udang premitif Menurut Vos and De La Rosa dalam Sambali (1990); Sorgeloos dan Kulasekarapandian (1987); Cholik dan Daulay (1985); Tunsutapanich (1979), Artemia termasuk dalam:
Phylum : Arthropoda
Klass : Crustacea
Subklass : Branchiopoda
Ordo : Anostraca
Famili : Artemiidae
Genus : Artemia
Spesies : Artemia sp.

Oleh Linnaeus, pada tahun 1778, Artemia diberi nama Cancer salinus. Kemudian pada tahun 1819 diubah menjadi Artemia salina oleh Leach. Artemia salina terdapat di Inggris tapi spesies ini telah punah (Sorgeloos dan Kulasekarapandian, 1987).
Artemia hidup plantonik diperairan yang berkadar garam tinggi, yaitu antara 15-300 permil. Suhu yang dikehendaki berkisaran antara 25-300C, oksigen terlarut sekitar 3mg/l, dan pH 7,3-8,4. Sebagai plankton, artemia tidak dapat dipertahankan diri terhadap pemangsanya sebab tidak mempunyai alat ataupun cara untuk membelah diri.

2. Morfologi
Telur
Telur Artemia atau cyste berbentuk bulat berlekuk dalam keadaan kering dan bulat penuh dalam keadaan basah. Warnanya coklat yang diselubungi oleh cangkang yang tebal dan kuat (Cholik dan daulay, 1985). Cangkang ini berguna untuk melindungi embrio terhadap pengaruh kekeringan, benturan keras, sinar ultraviolet dan mempermudah pengapungan (Mudjiman, 1983).

Cangkang telur Artemia dibagi dalam dua bagian yaitu korion (bagian luar) dan kutikula embrionik (bagian dalam). Diantara kedua lapisan tersebut terdapat lapisan ketiga yang dinamakan selaput kutikuler luar,.

Korion dibagi lagi dalam dua bagian yaitu lapisan yang paling luar yang disebut lapisan peripheral (terdiri dari selaput luar dan selaput kortikal) dan lapisan alveolar yang berada di bawahnya. Kutikula embrionik dibagi lagi menjadi dua bagian yaitu lapisan fibriosa dibagian atas dan selaput kutikuler dalam di bawahnya. Selaput ini merupakan selaput penetasan yang membungkus embrio.
Diameter telur Artemia berkisar antara 200 – 300 μ (0.2-0.3 mm). Sedangkan berat kering berkisar 3.65 μg, yang terdiri dari 2.9 μg embrio dan 0.75 μg cangkang

Larva (Nauplius

Apabila telur-telur Artemia yang kering direndam dalam air laut dengan suhu 25oC, maka akan menetas dalam waktu 24 – 36 jam. Dari dalam cangkang akan keluar larva yang dikenal dengan nama nauplius, seperti yang terlihat pada gambar 2. dalam perkembangan selanjutnya nauplius akan mengalami 15 kali perubahan bentuk. Nauplius tingkat I = instar I, tingkat II = instar II, tingkat III = instar III, demikian seterusnya sampai instar XV. Setelah itu nauplius berubah menjadi Artemia dewasa,

Gambar 1. Nauplius dan Perubahan Bentuknya.

Gambar 2. Artemia Dewasa

3. Pembibitan

Bibit dapat diperoleh dalam bentuk telur kering yang sudah di awetkan didalam kaleng. Untuk menetaskan telur artemia, diperlukan wadah yang telah disiapkan lingkugan yang baik selama proses penetasan suhu air antara 25-300C dan kadar oksigen lebih dari 2 mg/L. Oleh karena itu, air media harus di aerasi dilakukan dengan selang plastik kecil dan tidak perlu diberi batu aerasi. Telur – telur akan menetas menjadi nauphlius setelah 24-36 jam sejak pemasukkan telur.

Penangkapan nauphlius didahului dengan mematikan aerasi kemudian bagian atas wadah penetasan ditutup dengan kain atau plastic hitam. Kadar garam optimal 30-50 ppt, pH optimal adalah 7,5-8,5 dan kadar amonia yang baik < 80 mg/liter.

4. Perkembangbiakan

Berdasarkan cara berkembangbiakannya, Artemia dibedakan menjadi 2 jenis yaitu :

§ Biseksual

Harus melalui proses perkawinan antara induk betina dan jantan.

§ Partegnogenetik

Tidak melalui proses perkawinan. Pada jenis ini,induk betina akan beranak tanpa kawin. Apabila betina partenogenik dijodohkan dengan pejantan biseksual maka induk betina tersebut tetap tidak mau kawin.

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Artemia merupakan pakan yang penting bagi organisme budidaya seperti ikan, udang dan kepiting. Hal ini disebabkan karena nilai nutrisi yang dikandungnya tinggi dan penggunaannya pun luas. Proses penetasan suhu air antara 25-300C dan kadar oksigen lebih dari 2 mg/L dan Telur – telur akan menetas menjadi nauphlius setelah 24-36 jam sejak pemasukkan telur. Kadar garam optimal 30-50 ppt, pH optimal adalah 7,5-8,5 dan kadar amonia yang baik < 80 mg/liter.

Berdasarkan cara berkembangbiakannya, Artemia dibedakan menjadi 2 jenis yaitu :

§ Biseksual

§ Partegnogenetik

B. Saran

Dalam praktikum ini seharusnya sebagai dosen pembimbing harus lebih menekankan kedisiplinan kepada mahasiswa sehingga proses praktikum dapat berjalan sesuai dengan yang diharapakan. Untuk mahasiswa peserta praktikum harus lebih kompak dalam bekerja sama secara berkelompok

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s